Selasa, 08 Januari 2019

Kertas: Tak Lekang oleh Waktu

   Kertas merupakan kumpulan serat tanaman yang disusun menjadi suatu lembaran datar. Ia terbuat dari suspensi jaringan-jaringan tanaman di dalam air yang dikenal sebagai pulp atau bubur kertas. Sebagian besar pulp terbuat dari kayu, tetapi kertas daur ulang dan berbagai sumber tanaman lainnya, termasuk rami, kapas, rumput esparto, dan tebu juga dapat digunakan.
    Kertas dibuat pertama kali oleh seorang pejabat pengadilan Tiongkok yang bernama Cai Lun pada tahun 105 M. Bahan baku kertas kala itu adalah serat tanaman murbai. Bubur dengan jumlah yang sedikit diangkat menggunakan saringan persegi panjang yang terbuat dari selembar sutra berbingkai. Saringan tersebut lalu digoyang dengan lembut untuk menyebar ratakan serat-serat. Setelah air terkuras habis, lembaran kertas kemudian terbentuk dan dikeringkan di bawah sinar matahari.
     Teknik pembuatan kertas dirahasiakan selama lebih dari 600 tahun hingga para penakluk dari dunia Arab berhasil menguaknya. Mereka lalu menggunakan keahlian para pembuat kertas Tiongkok untuk mendirikan pabrik-pabrik di seluruh wilayah Muslim. Kemudian, bangsa Moor mengenalkan teknik pembuatan kertas di Eropa ketika menaklukkan Spanyol[1].
      Sejak itu, penggunaan kertas menyebar perlahan ke dunia barat. Dokumen kertas paling kuno di Eropa adalah “Mandat dari Adelasia”, yang ditulis pada tahun 1109 M dengan menggunakan bahasa Yunani dan Arab. “Mandat dari Adelasia” menjelaskan tentang Adelasia, ibu Raja Roger II dari Sisilia, bakal penerus Raja Roger I dari Sisilia, yang menyuruh para viscount (gelar kebangsawanan di Eropa yang merujuk pada kepala bagian administrasi dan yudisial) dari Castrogiovanni untuk melindungi Biara San Filippo Demenna. Dokumen tersebut tidak dianggap sebagai dokumen resmi, sehingga tidak menggunakan papirus yang lebih halus. “Mandat dari Adelasia” kini disimpan di Sisilia, Italia, dan masih memiliki segel lilin yang berwarna merah[2,3].
     Pusat produksi kertas terpenting di Eropa juga berada di Italia, tepatnya di kota Fabriano, wilayah Marche, pada abad pertengahan. Kota Fabriano menjadi pilihan karena lokasinya dekat dengan pelabuhan Ancona, sebuah pelabuhan yang sangat terbuka untuk berhubungan dengan para pedagang Arab. Pada awalnya, kertas diproduksi dari pakaian-pakaian bekas yang dikumpulkan dari para orang kaya. Setelah melalui proses yang cukup panjang, seperti penggunaan air dengan intensitas tinggi untuk pengolahan kertas maupun pengisian energi pada mesin, kertas lalu dijual. Kualitas kertas yang dihasilkan tergolong baik, akan tetapi penggunaannya dibatasi karena tingkat permeabilitasnya cukup tinggi (mudah menyerap cairan). Untuk mengatasi masalah tersebut, produsen kertas menggunakan lem yang diolah dari hewan. Lem ini berhasil membuat kualitas kertas jauh lebih baik [3,4] bahkan melebihi kertas yang kita gunakan saat ini yang bahan bakunya dari selulosa kayu.
    Kualitas kertas yang tinggi tersebut tentunya berperan dalam melestarikan sains dan literatur. Kita patut berterima kasih karenanya. Manuskrip pengetahuan buatan Leonardo Da Vinci, karangan mengagumkan “Decameron” dari Giovanni Boccaccio, “Komedi Ketuhanan” dari Dante Alighieri, atau kisah tragedi terkenal “Romeo dan Juliet” karya Shakespeare dapat kita baca hingga detik ini. Kita pun dapat merasakan amarah, benci, cinta, kasih sayang, dan berbagai macam ekspresi perasaan lainnya yang para penulis tuangkan di atas kertas, seolah-olah kita berada di masa yang sama.
    Kertas juga terbukti mampu menjadi perantara bagi manusia untuk mengutarakan perasaannya. Hampir semua manusia di dunia ini pernah menuliskan pesan atau surat untuk orang-orang terkasih. Sebut saja Jenderal Gabriele d’Annunzio, seorang penulis Italia, yang sering mengirimkan surat kepada Eleonora Duse, kekasihnya. Salah satu suratnya berisi I o sono infedele per amore, anzi per arte d’amore quando amo a morte (Aku tidak setia dalam mencinta, lebih tepatnya seni mencinta ketika aku mencintai kematian). Gabriele tidak hanya bertukar surat dengan Eleonora, namun dia juga mengirimkan berbagai surat kepada para kekasihnya yang lain. Surat-surat tersebut lalu ia bukukan ke dalam sebuah karya yang berjudul “Surat-Surat Cinta”[3].
   Selain itu, kertas bahkan dapat menjadi suatu karya seni. Menurut kepercayaan Shinto, kepercayaan tradisional di Jepang, jika orang yang kita sayangi sedang sakit, maka kita dapat mengobati mereka dengan membuatkan seribu burung bangau dari kertas origami. Burung bangau dipercaya dapat hidup selama seribu tahun. Cerita terkenal mengenai pembuatan seribu burung bangau (dalam bahasa Jepang disebut senbazuru) adalah tentang Sadako Sasaki, seorang gadis muda yang menderita leukimia akibat radiasi bom atom di kota Hiroshima. Ia mencoba untuk membuat seribu burung bangau demi menyembuhkan penyakitnya. Sayangnya, Sadako harus berhenti ketika burung bangau yang dibuatnya sudah mencapai 644 burung. Para sahabatnya kemudian menggenapkan jumlah burung bangau tersebut dan turut menguburkan semuanya bersama Sadako. Kini di Hiroshima, kita dapat melihat sebuah patung didirikan untuk mengenangnya yang dihiasi dengan ribuan origami burung bangau sebagai simbol perjuangan Sadako ketika melawan rasa sakit sekaligus simbol perdamaian dunia[5].
    Origami berbentuk hewan lainnya, contohnya katak, memiliki arti nasib baik atau kembali. Dalam bahasa Jepang, pengucapan kata katak sangat mirip dengan kata kembali, yakni kaeru. Origami katak biasa dibuat oleh geisha setelah menghibur patron kesayangannya, dengan harapan patron itu akan kembali. Selain geisha, istri-istri pelaut di Jepang juga membuat origami katak untuk diberikan kepada suami mereka sebelum bekerja di atas laut[3,6].
   Zaman sekarang, kertas digunakan sebagai media untuk menuliskan pesan maupun menyelesaikan berbagai macam pekerjaan. Kertas juga digunakan untuk semua jenis bahan cetak, mulai dari buku latihan hingga ensiklopedia. Selain itu, kertas diperlukan sebagai alat pembayaran. Namun, adanya teknologi seperti aplikasi perpesanan instan, buku elektronik, uang elektronik, dan lain sebagainya menyebabkan penggunaan kertas nampak tergerus. Akan tetapi, hal ini tidak terlalu berpengaruh secara signifikan. Menurut data dari The Paperless Project, konsumsi kertas di dunia malah semakin meningkat menjadi 400% dalam kurun waktu 40 tahun terakhir dengan 35% pohon-pohon telah ditebang untuk pembuatan kertas[7].
    Tingkat konsumsi kertas yang tinggi tersebut berakibat pada maraknya deforestasi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, yang dapat menyebabkan masalah-masalah ekosistem dan iklim. Ironisnya, kita sering menyelepekan eksistensi kertas yang selalu kita gunakan di rutinitas sehari-hari. Kita seharusnya menyadari bahwa kertas memiliki nilai penting karena ada suatu tanggung jawab besar yang dibawanya sebagai hasil dari proses produksi kertas itu sendiri.
    Berdasarkan hal di atas, kita akhirnya dapat memahami sekaligus merenungkan mengenai kertas yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kertas tidak hanya sebagai salah satu cara untuk mendokumentasikan pikiran, pengetahuan, maupun sejarah, melainkan juga sebagai bentuk representatif dari warisan peradaban manusia itu sendiri. Kita boleh mengatakan kita menemukan lebih dari dua ribu tahun sejarah kehidupan manusia di atas kertas. Kertas pun tidak hanya membawa kata-kata. Ia mampu membawa beragam cerita, emosi, fantasi, harapan, bahkan kekayaan. Oleh karena itu, mungkin kita dapat bertanya pada diri sendiri apa yang telah kertas berikan untuk kita, apa maknanya bagi kita, dan apa yang akan kita lakukan untuk menghargai eksistensinya.



Daftar Referensi : 
[1] Kew Plants People Possibilities. Paper. www.plantscafe.net/media/files/enar03_Paper.pdf 
           [2] Romeo, Ignazio. Paper Treasures: Libraries and Archives. Palermo: Departemen Warisan Budaya dan Identitas Sisilia; 2015.
[3] Ulisse - Un Mondo di Carta (Youtube Videos).
           [4] Fabriano. History. https://fabriano.com/en/324/history.          
[5] JCCC Origami Crane Project. Meaning of the Origami Crane. http://www.jccc.on.ca/origami-crane/pdf/meaning_of_the_origami_crane.pdf.
           [6] Engel, Peter. Origami from Angelfish to Zen. New York: Dover Publications, Inc; 1989.
           [7] The Paperless Project. Facts about Paper: The Impact of Consumption. http://www.thepaperlessproject.com/facts-about-paper-the-impact-of-consumption/
 
»»  read more

Selasa, 01 Januari 2019

Indonesia Bebas Korupsi

Sebagian masyarakat Indonesia boleh dikata tidak peduli terhadap keterbengkalaian sumber daya alam. Urusan olah mengolah sumber daya alam hanya untuk mereka yang tahu saja. Masyarakat yang apatis hanya memikirkan bagaimana bisa hidup dengan senang, terutama dengan cara instan, tanpa perlu repot-repot melakukan sesuatu yang ribet. Tidaklah mengherankan jika banyak yang terjerumus ke dalam lembah kejahatan, terutama korupsi. Korupsi merupakan salah satu penyebab sebagian masyarakat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, selain faktor-faktor pelengkap yang mendukung kemiskinan itu.
Saat ini, dunia pemberitaan Indonesia dipenuhi dengan kasus-kasus mengenai korupsi. Berita-berita yang sungguh membuat dada begitu sesak menyaksikan beratus-ratus milyar uang negara yang dikorupsi. Berita-berita yang dipenuhi oleh wajah senyum tanpa bersalah para pejabat si pengerat uang negara. Sepertinya tiada hari tanpa korupsi di Indonesia. Sepertinya dunia pemberitaan hampir berada di titik maksimal kejenuhan dikarenakan pemberitaan mengenai korupsi yang tiada habisnya.
Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang layak diberi hukuman berat. Berbicara mengenai hukum, untuk kasus korupsi sangatlah berbelit-belit. Ada kasus yang membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan untuk mengusutnya. Bahkan, ada juga kasus di mana si terdakwa telah tertangkap tetapi belum diberikan vonis. Apakah itu karena pasal-pasal untuk menjerat si tersangka masih dianggap belum kuat, bukti-bukti yang kurang mendukung statusnya sebagai tersangka, atau mungkin lambannya kinerja dari penyidik?
Namun, setelah pengusutan selesai hukuman yang diberikan malah relatif ringan dan tidak sebanding dengan kerugian uang negara. Dari pemberitaan hukumannya hanya berkisar dua sampai dengan empat tahun penjara. Seharusnya, seseorang yang melakukan kejahatan besar harus mendapat hukuman yang berat pula. Apa yang dilakukan harus sebanding dengan apa yang didapat. Pada kenyataannya, hal tersebut berbanding terbalik.
Perbandingan terbalik tidak hanya pada kasus korupsi. Hal ini juga terdapat pada kasus pencurian biasa. Seorang warga mencuri sandal seharga tiga puluh ribuan rupiah dikenai hukuman lima tahun penjara tanpa ampun. Bayangkan, lima tahun penjara karena tiga puluh ribu ripuah? Sungguh ironis. Bagi para koruptor, uang dengan jumlah demikian hanya dianggap recehan sehingga mereka tak tanggung-tanggung memenuhi nafsu syahwat untuk memiliki kekayaan melimpah dengan korupsi. Lima tahun dengan barang curian yang tidak sampai harga lima puluh ribuan kontras sekali dengan dua-empat tahun untuk hasil korupsi bermilyar-milyar.
Negara kita adalah negara dengan sistem politik demokratis, demokrasi Pancasila. Menurut S. Pamudji dalam bukunya “Demokrasi Pancasila dan Ketahanan Nasional”, salah satu aspek yang terkandung dalam demokrasi pancasila itu adalah aspek optatif. Aspek optatif ini mengetengahkan tujuan atau keinginan yang hendak dicapai. Tujuan ini meliputi tiga hal yaitu terciptanya negara hukum, negara kesejahteraan, dan negara kebudayaan. Untuk negara kebudayaan, Indonesia tidak perlu diragukan lagi mengingat banyaknya kebudayaan yang ada. Namun, untuk negara hukum apalagi negara kesejahteraan patut dipertanyakan sudah sejauh mana usaha pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan tersebut mengingat penegakan hukum di Indonesia masih kurang adil, terutama untuk kasus korupsi, sehingga berimbas secara tidak langsung terhadap kesejahteraan.
Pemerintah Indonesia bisa saja meminimalisir kasus korupsi dengan menerapkan pola hukum yang berbeda. Pemerintah Indonesia dapat mencontohi negara Cina. Cina yang masih tetap menerapkan sistem politik otoriter dan sentralistik memiliki penanganan kasus korupsi lebih maju dari Indonesia yang menganut sistem politik demokratis. Penanganan tersebut memberikan sedikit shock therapy kepada orang-orang yang berniat untuk korupsi. Cina memvonis hukuman mati terhadap orang-orang yang terbukti sebagai koruptor. Dari catatan tahun 2008 lalu, menurut informasi sudah sekitar 1700 orang yang dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi dan dihukum mati. Mungkin sekarang jumlahnya lebih banyak lagi mengingat Cina sendiri mengakui bahwa hukuman itu belum sepenuhnya efektif untuk membabat habis korupsi sampai ke akar-akarnya.
Wacana mengenai hukuman mati ini telah banyak dikoarkan oleh pihak-pihak yang prihatin terhadap kasus korupsi yang melanda Indonesia. Mereka beranggapan bahwa hukuman mati sangat pantas untuk perenggut kesejahteraan banyak orang ini. Perealisasian hukuman mati dengan baik harus menerapkan sistem hukum yang didukung dengan kemauan yang kuat dari pemerintah. Namun, pihak-pihak yang fanatik dengan HAM berpendapat bahwa hukuman mati tidak efisien untuk memberantas korupsi. Selain melanggar hak untuk hidup karena koruptor juga manusia, hukuman mati ini dianggap sebagai penutup kasus yang mungkin saja masih ada pihak di luar sana yang belum sempat tercium keterlibatannya oleh pihak berwenang.
Apa salahnya mencoba? Seseorang tidak pernah tahu jika tidak pernah mencoba, bukan? Apabila aparat penegak hukum tidak berani menjatuhkan hukuman mati, niscaya praktik korupsi akan terus berjalan mengingat hukuman yang sekarang diberikan relatif ringan. Apakah aparat yang terhormat rela mengorbankan kesejahteraan masyarakat banyak hanya demi nyawa para koruptor? Apakah aparat penegak hukum sudah tidak sanggup lagi membantu pemerintah untuk memenuhi tujuan daripada demokrasi Pancasila, yakni menciptakan negara hukum dan negara kesejahteraan, yang belum tercapai sesuai harapan?
Selain pemerintah, masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam pemberantasan korupsi. Masyarakat dapat melaporkan ke pihak yang berwenang apabila menemui sesuatu yang mengarah ke korupsi. Iman juga perlu ditingkatkan agar masyarakat segan untuk korupsi dari skala kecil hingga ke skala yang besar.
Untuk global, dunia pun punya peran dalam membantu pemerintah Indonesia dengan cara mem-black list para koruptor yang kabur ke negaranya. Tentunya ini memerlukan koordinasi yang baik dengan pemerintah Indonesia. Negara-negara yang disinggahi para koruptor dari Indonesia diharapkan segera mengekstradisi “tikus-tikus” tersebut kembali ke habitatnya untuk diproses sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.
Dengan demikian, apabila ketiga komponen di atas, yakni masyarakat, pemerintah, dan dunia menjalankan peranannya dengan baik niscaya koruptor tidak akan lagi berani memunculkan batang hidungnya atau bahkan lenyap sama sekali di Indonesia. Banyak uang negara yang akan terselamatkan. Jika hal itu tercapai, insya Allah potret Indonesia tahun 2019 tidak akan sesuram potret tahun-tahun lalu. Indonesia dapat mewujudkan tujuan berdirinya negara hukum, negara kesejahteraan, dan negara budaya yang baik. Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling banyak dikunjungi penduduk dunia setiap saat. Indonesia akan seindah cerita orang-orang luar sesuai realita di dalamnya.

»»  read more

Jumat, 31 Agustus 2018

Indahnya Menjalani Hidup bersama Allisya Protection Plus


    Tuhan memberikan karunia terbesar pada manusia berupa kehidupan. Tiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menjalani kehidupan dengan berbagai macam target, mulai dari menjadi pengusaha sukses, penulis terkenal, atau politisi berpengaruh.
»»  read more

Jumat, 06 Juli 2018

Menjelajah Kemegahan Eropa Barat Bersama Cheria Halal Holiday

Saat ini, hampir semua mata di segala penjuru dunia tertuju pada ajang sepakbola terakbar, Piala Dunia 2018. Piala Dunia 2018 telah memasuki babak perempat final. Tim-tim langganan juara seperti Brasil dan Uruguay menjadi favorit jawara tahun ini. Adapun negara-negara lain seperti Perancis, Inggris, dan Belgia juga masuk dalam perhitungan kans untuk juara.
Perancis, Inggris, dan Belgia merupakan negara-negara Eropa bagian barat. Selain karena kehebatan tim nasional sepakbolanya, ketiga negara tersebut juga terkenal karena adanya berbagai macam destinasi wisata yang menyuguhkan kemegahan ala Eropa. Sebut saja katedral Notre Dame di Paris, Big Ben di London, dan Atomium di Brussels. Jika salah satu dari ketiga negara tersebut menjadi jawara Piala Dunia 2018, maka sungguh merupakan suatu pengalaman yang tak dapat terlupakan ketika dapat mengunjunginya. Jika tidak, destinasi-destinasi wisata yang ada tetap menjadi favorit untuk dikunjungi.
Perjalanan ke Eropa membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Walaupun demikian, kita tetap dapat melancong ke sana dengan harga yang cukup terjangkau berkat paket tur dari Cheria Halal Holiday. Cheria Halal Holiday sendiri merupakan perusahaan travel wisata halal yang didirikan pada tahun 2012 oleh para professional berkualitas di bidang industri pariwisata dan marketing. Para profesional ini berpengalaman lebih dari sekian tahun. Layanan yang diberikan komprehensif bagi individual atau grup yang hendak berwisata baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, layanan dari Cheria Halal Holiday sangat memanjakan wisatawan muslim karena maraknya tour wisata muslim di berbagai tempat, khususnya di Eropa Barat.
Oleh karena itu, Cheria Halal Holiday menawarkan Paket Tour Halal Eropa Barat dengan empat pilihan waktu keberangkatan pada tahun ini, yaitu tanggal 11 Agustus, 8 September, 19 Oktober, dan 16 November. Kota-kota yang akan dikunjungi adalah Milan, Lucerne, Zurich, Frankfurt, Brussels, dan Paris. Biaya untuk mengikuti tur ini sebesar 1546 USD atau sekitar 22.250.000 IDR meliputi tiket internasional maskapai Qatar Airways, akomodasi hotel bintang empat (twin sharing), transportasi bus dilengkapi dengan AC, pemandu tur muslim yang berpengalaman, serta asuransi perjalanan. Adapun untuk pengurusan visa ke Perancis (proses normal 7-14 hari), pajak bandara internasional, fuel surcharge, tipping untuk pemandu tur dan supir, masuk ke lantai 2 menara Eiffel, laundry, telepon, internet, minibar, dan biaya porter (hotel, bandara, atau transportasi lain) ditanggung oleh peserta tur.
Paket Tour Halal Eropa Barat berlangsung selama sepuluh hari. Rombongan akan berkumpul di bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Milan melalui Doha pada hari pertama. Setibanya di Milan, rombongan akan mengunjungi Kastil Sforza, Patung Da Vinci, Teater La Scala, dan Katedral Milan yang merupakan maskot kota bernuansa gotik. Setelah itu, rombongan akan berkunjung ke masjid di Milan dilanjutkan dengan acara bebas di Galeri Vittorio Emanuele II yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua di dunia.Pada hari ketiga, rombongan akan menuju Engelberg di Swiss untuk menikmati pemandangan Gunung Titlis. Transportasi yang digunakan untuk mencapai gunung adalah Cable Car yang dapat berputar 360 derajat sehingga rombongan dapat melihat pemandangan memukau dari segala penjuru arah dan menikmati salju abadi di atas ketinggian lebih dari 3000 m di atas permukaan laut. Rombongan lalu melanjutkan perjalanan ke Lucerne untuk berbelanja jam tangan bermerek di Toko Bucherer. Hari berikutnya, rombongan menuju ke Zurich dan kembali lagi ke Lucerne untuk tur kota dan membeli barang-barang bermerek dengan harga pabrikan di toko Drubba. Negara yang menjadi tujuan berikutnya pada hari kelima adalah Jerman. Rombongan akan mengunjungi Old City, Katedral Frankfurt, Eschenheimer Turm, Goethe House, dan Romeberg Square di Frankfurt. Kemudian, rombongan akan menuju ke bangunan ikonik bergaya gotik di Cologne, yaitu Katedral Cologne, Gereja Romanesque of Great St. Martin, dan City Hall. Rombongan juga berkesempatan untuk membeli buah tangan khas setempat dan mengunjungi Masjid Central Cologne.
Pada hari keenam, rombongan akan menghabiskan waktu seharian di Amsterdam dengan mengunjungi desa wisata Zaanse Schans untuk melihat cara pembuatan kelom dan keju khas Belanda serta berfoto dengan latar belakang Holland Windmills. Desa yang menjadi tujuan berikutnya adalah desa nelayan Volendam yang terkenal dengan pakaian tradisional nelayannya dan suvenir murah di toko Tobben. Setelah makan siang, rombongan akan menyusuri kanal-kanal untuk berkunjung ke tempat pengasahan berlian, yaitu Gassan Diamond. Rombongan juga akan melewati Dam Square, Royal Palace, National Monument, dan Central Station.
Kemudian, rombongan bergerak menuju ke Brussels pada hari berikutnya. Setibanya di Brussels, rombongan akan berkunjung ke Atomium, Grote Markt, Mannekin Pis, Old Town, dan Royal Palace. Rombongan juga akan berbelanja oleh-oleh khas Belgia, yaitu Home Made Belgian Chocolate dan Belgian Waffle.
Pada hari kedelapan, rombongan akan berada di Paris, kota mode dunia. Tempat-tempat ikonik seperti Place de La Concorde, Champs Elysees, Museum Louvre, Arc du Triomphe, Menara Eiffel, Les Invaldes, Trocadero, dan Katedral Notre Dame menjadi daftar wajib rombongan untuk dikunjungi selama berada di sana. Rombongan lalu mengunjungi Grand Mosque Paris dan berbelanja di Toko Benelux Duty Free Shop dan Galeri Lafayette. Hari berikutnya, rombongan akan memiliki acara tambahan berupa pesiar dengan cruise mengelilingi Sungai Seine yang dirangkaikan dengan acara bebas sebelum penerbangan kembali ke tanah air.
Demikianlah agenda dari Paket Tour Halal Eropa Barat bersama Cheria Halal Holiday. Sangat menarik, bukan? Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah menabung dari sekarang dan jangan lupa untuk mendaftar menjadi peserta rombongan dari Paket Tour Halal Eropa Barat bersama Cheria Halal Holiday. Ayo, ceriakan liburan Anda bersama keluarga dan kerabat!

»»  read more

Senin, 05 Maret 2018

Jejaring Sosial Pemicu Penyakit Hati

Di era yang serba digital ini, jejaring sosial bukanlah sesuatu yang asing. Hampir setiap hari kita berinteraksi dengannya, seperti update status di Facebook, nge-tweet di Twitter, upload foto di Instagram, dan lain sebagainya. Saking intensnya, sehari saja tidak berhubungan dengan jejaring sosial, dunia akan terasa hampa.
Pada saat nge-sosmed, pernahkah kita sempat merasa iri dengan teman yang ngupload foto-foto liburan di luar negeri? Pernahkah kita membandingkan diri ketika teman ngupdate status sudah mendapat pekerjaan sedangkan kita masih nganggur sampai-sampai merasa sedih? Pernahkah kita stalking akun seseorang yang disukai? Jika ya, maka hati-hati, mungkin saja kita sudah terjangkit penyakit hati.
Tak dapat dipungkiri, penggunaan jejaring sosial berpotensi menimbulkan penyakit hati. Beberapa di antaranya :
1.        Riya’
Apa itu riya’? Menurut bahasa, riya’ berarti pamer atau memperlihatkan. Adapun riya’ menurut istilah berarti memperlihatkan suatu ibadah dan amal saleh kepada orang lain, bukan karena Allah, dengan harapan agar dipuji orang lain.
Riya’ merupakan sifat yang tidak disukai Allah. Rasulullah SAW. bersabda :
“Barangsiapa bersikap riya’, maka Allah akan memperlihatkan ke-riya’-annya di akhirat kelak. Barangsiapa suka memperdengarkan ibadahnya, maka Allah akan memperdengarkan perbuatannya itu kelak” (H.R. Bukhari dan Muslim).”
Kita mungkin pernah melihat foto-foto liburan yang diunggah teman-teman. Kita juga mungkin pernah membaca status yang kurang lebih seperti ini “Alhamdulillah, sudah tiga rakaat-an”. Apakah mereka dapat dicap sebagai orang-orang yang riya’ walau dalam konteks bahasa sudah termasuk riya’? Wallahu a’lam. Yang jelas, ketika mereka memang berniat untuk pamer, hal tersebut sudah termasuk riya'
2.       Iri
Iri adalah suatu sifat yang tidak senang atas rezeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan berusaha untuk menyainginya. Contohnya seperti yang telah disinggung sebelumnya, ketika kita melihat foto-foto teman liburan di luar negeri. Kita mungkin merasa iri. Kenapa dia bisa ke sana sedangkan kita nggak? Lalu kita pun berusaha agar bisa ke luar negeri demi menyaingi teman tersebut.
Iri termasuk sifat tercela yang dapat merusak amal. Allah SWT. telah mengingatkan kita dalam firman-Nya yang berarti :
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. An-Nisaa’: 32).
Iri hati juga berpotensi menimbulkan depresi. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh tim peneliti di University of Missouri-Columbia School, pengguna jejaring sosial, dalam hal ini Facebook, yang melihat bagaimana kualitas kehidupan teman-teman mereka melalui postingan tentang liburan mahal, rumah atau mobil baru, dan hubungan percintaan yang bahagia, rentan untuk merasa iri. Tim peneliti mengatakan bahwa perasaan ini dapat mengakibatkan pengguna tersebut mengalami gejala depresi, bahkan kemungkinan mengalami depresi berat.
3.        Kepo
Istilah kepo belakangan ini makin akrab di telinga kita. Kepo banyak digunakan oleh anak muda ketika bercakap satu sama lain. Kepo sendiri merupakan akronim dari Knowing Every Particular Object yang artinya kurang lebih “ingin tahu sesuatu secara mendetail”.
Namun, kepo cenderung memiliki konotasi yang agak negatif. Hal yang ingin diketahui secara mendetail bukanlah ilmu, tetapi kebanyakan mengenai urusan orang lain. Terlebih dengan adanya jejaring sosial, aksi ngepoin lebih mudah untuk dilakukan.
Contoh sederhana dari kepo adalah ketika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang seseorang yang disukai. Jika kita tahu apa nama akun Facebook atau Twitter si dia dan terlebih lagi berteman dengannya, tinggal buka profil dan scroll dari atas sampai bawah, semua informasi yang dibutuhkan tersedia dengan catatan si dia juga aktif di jejaring sosial tersebut.
Nah, bagaimana kalau tidak aktif nge-sosmed? Jika tingkat obsesi ke orang tersebut tinggi, maka tingkat kepo¬-nya pasti tinggi juga. Mungkin kita akan melakukan investigasi tersendiri sampai-sampai menjadi penguntit atau stalker ala intel FBI.
Hal seperti di atas dilarang dalam Islam. Mengapa? Kepo cenderung membuat kita berprasangka kepada orang lain. Kita mungkin akan menduga orang tersebut begini dan begitu berdasarkan informasi yang diperoleh. Padahal, hukum prasangka telah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 12 yang artinya sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hujurat : 12).

Berdasarkan pemaparan tentang tiga penyakit hati di atas, dapat kita lihat bagaimana penggunaan jejaring sosial menyerang hati secara diam-diam. Sekilas kita memang tidak sadar telah terjangkit penyakit hati yang kadang-kadang sulit dideteksi, terutama ketika memakai jejaring sosial.
Jadi, bagaimana solusi yang tepat untuk menghindari tiga penyakit tersebut? Pertama, gunakan jejaring sosial ketika ada keperluan saja, seperti menghubungi teman atau meng-update informasi yang penting. Kedua, tanamkan di pikiran bahwa semua yang ada di jejaring sosial tidak menutup kemungkinan hanyalah kamuflase belaka. Tidak semua yang diunggah di jejaring sosial sesuai dengan kenyataannya. Dan yang ketiga, janganlah lupa untuk berdoa kepada Allah SWT. agar selalu dilindungi dari penyakit yang lebih bahaya daripada penyakit fisik ini.


»»  read more

Senin, 26 Februari 2018

Dua Anak (Belum) Cukup

Di era milenium ketiga saat ini, program Keluarga Berencana (KB) makin gencar disosialisasikan oleh pemerintah. Apa itu program KB? Menurut situs Wikipedia, Keluarga Berencana adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Eits, kelahiran kok dibatasi? Apakah kalau memiliki banyak anak akan mengundang banyak masalah? Mari kita bahas dari dua perspektif yang berbeda.
Untuk golongan yang pro, program KB dianggap sangat membantu. Program yang berlandaskan pada Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera ini memiliki banyak manfaat, di antaranya ditinjau dari segi kesehatan ibu dan ekonomi keluarga. Si ibu akan terlindungi dari kanker uterus dan ovarium dengan mengkonsumsi pil kontrasepsi serta menurunkan angka kematian maternal dengan adanya perencanaan kehamilan yang aman, sehat, dan diinginkan. Selain itu, Program KB juga membantu perencanaan kehidupan berkeluarga yang baik sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas yang memiliki generasi handal untuk melanjutkan pembangunan.
Iklan-iklan KB memiliki jargon andalan, yaitu “Dua Anak Cukup”. Logo KB pun menggambarkan hal yang sama. Bagi pasangan yang memang merencanakan ingin memiliki dua anak, haruslah disertai dengan niat yang baik, seperti mengatur jarak di antara dua kelahiran dan menjaga keselamatan jiwa, kesehatan, maupun pendidikan anak-anak. Jangan karena takut miskin, takut pekerjaan terganggu, atau takut tidak bisa mendidik anak-anak maka program KB dijadikan jalan keluar. Anak termasuk rezeki juga, kan?
Karena anak termasuk rezeki, maka ada istilah “banyak anak, banyak rezeki”. Istilah inilah yang menjadi jargon bagi golongan yang kontra dengan program KB. Mereka menganggap program KB yang bertujuan membatasi kelahiran sama saja dengan membatasi rezeki. Golongan yang kontra ini merujuk dari segi agama. Menurut Q.S. Al-Isra' ayat 31, Allah SWT. mengharamkan membunuh anak-anak karena takut miskin dan rejeki sudah dijamin ada pada tiap-tiap anak dan orang tua. Selain itu, Rasulullah SAW. sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan yang sangat banyak, tentunya bukan asal banyak melainkan berkualitas.
Salah satu tokoh yang kontra dengan program KB adalah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Beliau mengatakan bahwa satu atau dua anak tidaklah cukup. Untuk membuat suatu bangsa lebih kuat, diperlukan populasi yang lebih dinamis dan lebih muda. Program KB dinilainya merupakan suatu pengkhianatan, di mana kontrasepsi beresiko menyebabkan seluruh generasi mengering. Satu kutipan menarik yang dilontarkan beliau adalah “Satu (anak) berarti kesepian, dua sarana persaingan, tiga keseimbangan, dan empat berarti kelimpahan. Dan Allah mengurus sisanya.” Selain itu, Erdogan juga menegaskan bahwa dengan diberhentikannya program KB dapat menunjang jumlah penduduk Turki yang bisa mengangkat Turki ke peradaban modern.
Memang, banyaknya jumlah penduduk dapat meningkatkan kualitas suatu bangsa. Lihat saja negara Tiongkok. Mereka tersebar di seluruh dunia dan negara-negara yang ada penduduk Tiongkok-nya pasti memiliki Kampung Tiongkok atau China Town. Begitu pula dengan produk-produk yang beredar di pasaran. Pasti ada yang bertuliskan “Made in China”. Jangan heran kalau sekarang Tiongkok sudah dianggap menjadi bagian dari kekuatan Asia di mata dunia.
Berdasarkan pemaparan dua sudut pandang di atas, dapat disimpulkan bahwa baik golongan yang pro dan kontra masing-masing memiliki landasan untuk mendukung pendapatnya. Kita dapat menentukan mana yang terbaik bagi diri kita sendiri dan janganlah terlalu kaku terhadap pendapat satu golongan saja. Misalkan, ketika merasa dua anak sudah cukup dan program KB pun dilakukan. Tiba-tiba si ibu menunjukkan tanda-tanda kehamilan, seperti mual. Anggap saja itu rezeki tambahan kalau tidak mau dibilang rezeki “yang tak diinginkan”. Kita juga tidak mungkin akan menolaknya, kan? Oleh karena itu, dua anak belum cukup jika kalimat “dua anak tidak cukup” terlalu kaku untuk digunakan.
Bagi para calon orang tua, hendaknya perihal mengenai perencanaan anak ini dapat dipertimbangkan sematang mungkin agar kelak generasi yang dilahirkan dapat berpartisipasi terhadap pembangunan negara. Adapun bagi yang sudah menjadi orang tua, entah memiliki satu-dua anak atau lebih, sangat disarankan untuk memberikan bekal berupa pendidikan moral yang baik dan doa untuk anak-anaknya agar dapat berperan dalam peningkatan kualitas bangsa.


»»  read more

Minggu, 18 Februari 2018

Treatments of Hearts and Minds for Better World

     In this era, there are many cases belong to the poor understanding of peace. For example, people around the world can see how Israeli soldiers keep beating Palestinian civilians because of land problems. Also ISIS or the Islamic State of Iraq and Syria spread their wings by killed many people who didn’t agree with ISIS belief. Those case showed that there are people in this world who still can’t respect the peace and make others being rest in peace. 
     However, each person should treats their hearts and minds to avoid situation like that. The first step can starts from the nearest environment, like family or  neighbourhood. In family, each person can make good relation with other relatives by respect their opinion and be grateful to have them as family. The second one is in school or work environment. Those environment are susceptive to bullying. Bullying should not exist because it can makes someone being depress and desperate. There are many cases of bullying that made some victims commit suicide to end their life. Also junior-senior system in college. Senior students tend to make absurd rules for their junior as honour for the senior. The rules can affect the mental of junior to be “slave” than respect to their senior. This system also should not exist because it is same with the slavery in past era. Each person has the same right to live their life by their own way. Last but not least, religious people should make good connection with their God because the hearts and minds are belong to Him.
     Three steps above are just suggestions to prohibit people from destroy the environment. This world is not belongs to the certain people. God created it for anyone or His slaves. So, by treat the hearts and minds, there will be no war in this moment again and peace can be everlasting.
»»  read more

Minggu, 11 Februari 2018

Jilbabku, Pengubahku

     Masa sekolah adalah masa yang paling membahagiakan dalam hidup. Masa sekolah adalah masa di mana pekerjaan yang ditahu hanya belajar dan bermain. Tidak ada keharusan untuk bekerja, walau hal ini tidak berlaku bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
     Masa sekolah yang paling membahagiakan buatku adalah ketika duduk di bangku SMP. Ketawa-ketiwi tidak jelas dengan teman-teman tiap hari, pulang sekolah sambil gila-gilaan neriakin orang sepanjang jalan, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh para ababil (ABG labil). Bisa disimpulkan saya termasuk golongan ababil pada masa itu. Untunglah kelabilan saya dan teman-teman tidak sampai mengikis norma kesusilaan seperti yang dilakukan oleh para ababil saat ini.
     Saya belum berjilbab pada saat itu. Pengetahuan tentang wajibnya berjilbab juga belum memadai. Walau teman-teman sekelas sudah ada yang berjilbab, namun mereka belum menjadi jilbabers permanen. Sering buka pasang ketika kegerahan di dalam kelas tanpa mempedulikan lawan jenis yang masih bercokol di ruangan. Alhasil, saya menyimpulkan bahwa jilbab hanyalah sekedar topi penutup rambut yang dapat dibuka kapan saja.
     Lambat laun, pandangan tersebut berubah. Berbekal pelajaran Agama Islam dan seringnya mengikuti acara keagamaan di sekolah, saya mulai menghormati teman-teman saya yang non-jilbabers permanen. Setidaknya, mereka satu tingkat ketaatannya di atas saya yang masih membiarkan aurat terlihat di mana-mana. Mungkin pengaruh belum berjilbab juga yang membuat saya menjadi ababil.
     Sejak saat itu, saya meniatkan diri untuk berjilbab selepas SMP. Alhamdulillah, niat itu terealisasi setelah MOS di SMA selesai. Kelabilan semasa SMP perlahan-lahan mulai menghilang. Mungkin karena faktor usia juga yang sudah boleh dikatakan menuju ke usia dewasa. Di SMA inilah saya mulai mempelajari lebih jauh tentang apa itu jilbab.
     Alhamdulillah, pengetahuan mengenai jilbab sudah ada sedikit demi sedikit. Saya menjadi jilbaber permanen di luar rumah. Begitu pula di dalam rumah ketika ada teman-teman yang datang untuk belajar kelompok, walau jilbab yang saya pakai kebanyakan masih di luar syar’i (jilbab sampai di leher).
     Hingga ketika saya kuliah dan mengikuti tarbiyah, saya mulai mengetahui konsep mengenai jilbab syar’i. Selama ini yang saya tutupi hanya sebatas bagian atas. Adapun bagian ke bawah belum tertutupi, dalam artian secara syar’i. Sebelum tarbiyah, saya sudah menggunakan jilbab yang agak panjang menutupi dada, tapi masih menggunakan baju yang sedikit ketat dan celana jeans.
     Alhamdulillah, setelah sering mengikuti tarbiyah perlahan-lahan saya mulai mengubah cara dalam berpenampilan dan berhias. Mengurangi pemakaian baju yang ketat, lebih sering menggunakan rok, dan tidak memakai parfum secara berlebihan. Dari segi perilaku alhamdulillah juga sudah bertambah kalem dan menjaga jarak dengan lawan jenis, walaupun masih sering bercanda berlebihan dengan yang bukan mahram.
     Sampai detik ini, saya masih dalam proses berjilbab syar’i. In syaa Allah dapat diterapkan secara total ke depannya. Jilbabku telah menjadi pengubahku, dari yang ababil (ABG labil) menjadi akabil (akhwat stabil) ☺



»»  read more

Minggu, 04 Februari 2018

Peneliti untuk Negeri

  Indonesia adalah nama suatu negara yang terletak di Asia Tenggara. Negara ini berada di antara Benua Asia dan Benua Australia serta diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sekitar 17.508 pulau. Letak Indonesia yang berada di persilangan benua dan samudera yang sangat strategis menyebabkan banyak orang-orang dari penjuru dunia mengunjungi negara yang menempati peringkat ke-empat penduduk terbanyak di dunia1
     Selain posisi yang sangat strategis, Indonesia banyak dikunjungi karena keindahan alam dan budayanya. Tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia memiliki ciri khas alam dan budaya tersendiri. Tidaklah mengherankan apabila orang-orang yang pernah mengunjungi Indonesia kembali lagi karena begitu banyaknya keindahan alam dan budaya yang belum sempat tereksplorasi oleh mata yang haus akan keindahan.
     Begitu banyak karunia yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada negeri kita yang tercinta ini. Sayang, tidak semua karunia yang diberikan itu disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Walaupun memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang mampu mengolah sehingga banyak sumber daya alam yang terbiarkan begitu saja menunggu eksploitasi dari pihak asing yang ingin meraup untung di tanah surga ini.
   Kekurangan sumber daya manusia bukan dari segi kuantitas, melainkan dari segi kualitas. Kekurangan ini disebabkan oleh kecenderungan warga negara Indonesia hijrah ke luar negeri untuk berkarier dan akhirnya menetap di sana dikarenakan kesejahteraan hidup lebih terjamin dibandingkan berkarier di negeri sendiri. Sebagai contoh, gaji seorang guru SMA di luar negeri sebanding dengan gaji seorang dosen di negara ini, bahkan ada yang lebih. Selain itu, faktor sarana dan prasarana yang kurang menjadi hambatan untuk mencapai kualitas SDM yang baik.
     Akibat yang ditimbulkan dari fenomena di atas adalah Indonesia kewalahan untuk mengolah sumber daya alamnya sendiri yang begitu melimpah ruah sehingga mau tidak mau harus “minta tolong” kepada pihak asing. Indonesia “kehilangan” orang-orang pintarnya, termasuk di antaranya adalah para peneliti. Berdasarkan data LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), jumlah peneliti yang terdaftar di Indonesia saat ini hanya 8.000 orang dan yang masih berada di perguruan tinggi sekitar 16.000 orang. Jika dijumlah, total peneliti Indonesia hanya 24.000 orang atau 100 peneliti per satu juta penduduk. Jumlah itu sangat sedikit apabila dibandingkan dengan negara maju yang rata-rata memiliki 1.000 peneliti per sejuta penduduk. Bahkan, di Belarus saja, suatu negara kecil di Eropa, memiliki 3.600 peneliti per sejuta penduduk. Seharusnya, Indonesia memiliki 200.000 peneliti per sejuta penduduk jika dihitung dari data tersebut2. Jumlah yang wajar mengingat Indonesia adalah negara yang memiliki banyak penduduk. Bisa dibayangkan jika kuota tersebut terpenuhi, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang maju.
   Walaupun ada yang “melupakan”, ada pula yang “mengingat”. Para WNI yang menuntut ilmu di luar negeri dan berhasil menjadi orang yang sukses kembali ke tanah air untuk mengabdikan diri. Mereka mengaplikasikan ilmu yang didapatnya tanpa tergiur dengan gaji besar yang ditawarkan pihak luar untuk bekerja di sana.
   Dengan kembalinya orang-orang tersebut ke tanah air, sedikit demi sedikit Indonesia meniti langkah untuk menjadi negara yang maju. Hal tersebut merupakan salah satu kontribusi yang dapat diberikan untuk bangsa. Selain itu, dengan berprestasi di kancah seni, olahraga, akademik, maupun bidang-bidang yang lain juga termasuk kontribusi-kontribusi yang mengharumkan nama negeri ini. Masih ada kontribusi-kontribusi lain yang dapat diberikan selain yang telah disebutkan.
    Sebagai mahasiswa yang belum berbuat apa-apa bagi negeri ini, kita dapat memberikan kontribusi yang sederhana dengan membudayakan belajar, baca, dan tulis. Dengan membudayakan belajar, baca, dan tulis, akan banyak penduduk Indonesia yang tertarik ingin menjadi peneliti. Selain itu, akan lahir pula ide-ide cemerlang yang dapat diaplikasikan untuk kemaslahatan bangsa ke depannya. Aspek kognitif, dalam hal ini baca dan tulis, juga perlu dipadu padankan dengan aspek afektif dan psikomotorik agar dapat sukses3. Sukses dalam hal ini adalah dapat memberikan kontribusi yang nyata untuk bangsa. Dan dengan demikian, Indonesia dapat mewujudkan mimpinya untuk menjadi negara yang maju, salah satunya melalui tangan para peneliti.

Daftar Pustaka :

1.  Wikipedia. 2013. Indonesia. http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia. Diakses pada tanggal 16 September 2013, pukul 20.20 WITA.
2.  Chandrataruna, Muhammad, dan Tommy Adi Wibowo. 2013. LIPI Bidik 250 Peneliti Baru di Indonesia. http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/439300-lipi-bidik-250-peneliti baru-di-indonesia. Diakses pada tanggal 16 September 2013, pukul 20.14 WITA.
3.  Ahmad Zain. 2011. Kesuksesan. http://www.ahmadzain.com/read/penulis/131/kesuksesan/. Diakses pada tanggal 18 September 2013, pukul 18:40 WITA.
»»  read more