Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2019

ALARA - The Principle of a Respectful Healthcare Environment

The term of ‘trust’ is derived from Old Norse word “traust” which means “belief, security, and assertiveness”. Trust is a permanent concept – someone who earn the trust is usually trusted for life, until that person destroys it and will takes a long time to get it back.
Trust goes hand in hand with respect. Respect is a term that defines the appreciation for an entity or person. Basically, respecting someone means considering and believing them as someone great or highly valued.
In a work environment, especially in healthcare, trust and respect are foundations of building great relationships and the employees need a bit more effort in order to earn and maintain them.
Hence, we proposed few steps in a principle called ALARA (Aim, Learn, Active, Responsible, and Assertive), which will be portrayed digitally in photo essay.
1.     Aim. The employees should have a clear aim in their work and aligned with the healthcare's vision and mission.
2.   Learn. The employees should learn new things, such as learning the technology that is currently in trend or related to their work field.
3.     Active. The employees should be active to express their ideas in a meeting. Ethics in speaking also must be considered.
4.     Responsible. The employees should be responsible for every action and its outcome. Putting off responsibility to others will ruin the efforts to build trust.
5.  Assertive. Assertive means defending rights fairly. The employees who are assertive shows respect for themselves and others. Self interest and dignity are protected without injuring the honor and rights of others.
Based on ALARA principle, the expected result is there will be a significant increase in work performance, which lead to the great relationships among the employees or between the employees and leaders, in order to make a respectful work environment. 


»»  read more

Minggu, 19 Mei 2019

Bioetanol: Solusi Hijaukan Bumi dengan Kertas

Judul esai di atas sekilas kontra dengan misi yang diusung oleh paperless society – hijaukan bumi dengan (mengurangi) kertas. Misi dari paperless society dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap deforestasi masif untuk memenuhi kebutuhan kertas, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan limbah kertas.

Fakta tentang Limbah Kertas
Salah satu penyumbang limbah kertas adalah lembaga-lembaga pendidikan. Tak dapat dipungkiri, kertas masih mendominasi kebutuhan pokok mereka di era digital saat ini.
Saya setuju dengan fakta ini karena memiliki orang tua yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri. Orang tua saya lebih menyukai memeriksa tugas kuliah dan skripsi di atas kertas daripada di depan layar komputer.
Mungkin sensasi mencorat-coreti bagian yang salah, terutama dengan bolpoin bertinta merah, membuat mereka bernostalgia ketika masih menjadi mahasiswa, yang mana pada kala itu lebih membutuhkan perjuangan untuk menyelesaikan tugas dengan mesin tik. Mata yang sudah rabun juga membuat mereka tidak ingin berlama-lama menatap layar.
Tak heran, di rumah saya ada lemari penyimpanan khusus untuk skripsi. Tidak hanya itu, di beberapa tempat terdapat tumpukan kertas tugas mahasiswa yang terkadang sering saya jadikan pembungkus kotoran setelah selesai diperiksa. Hemat saya, jika ada “kertas bekas” mengapa saya harus menggunakan kertas baru atau tisu?
Saya tahu hal ini cukup miris – tugas yang mungkin dikerjakan sampai memangkas waktu tidur pada akhirnya dijadikan pembungkus kotoran. Saya pun mendapat “karma” ketika melihat tugas saya dibiarkan terhambur begitu saja di atas meja dosen. Saya tidak menggerutu karena saya cukup tahu diri untuk tidak melakukannya.
Kurang lebih dua tahun yang lalu, ketika mengurus persyaratan wisuda sarjana, almamater saya mewajibkan untuk mencetak skripsi sebanyak lima rangkap untuk dua pembimbing skripsi, perpustakaan jurusan, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan universitas, sebelum mengunggah skripsi ke dalam repository. 
Saya sempat pesimis – seberapa lama skripsi saya bertahan disimpan jika dengan mudahnya dapat diunduh dari repository? Fenomena ribuan skripsi yang dibuang oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar dengan alasan skripsi-skripsi tersebut sudah berjamur dan tidak bisa dibaca lagi[1] juga kian menambah kepesimisanku.
Apakah alasan almamater meminta hard file untuk mempertahankan penggunaan keempat indra (mata, hidung, telinga, dan jari) atau untuk memperbanyak koleksi hingga waktu yang ditentukan? Entahlah.
Ayah saya juga menyuruh untuk mencetak skripsi agar dapat disimpan (ada kebanggaan tersendiri membaca skripsi anaknya), tetapi saya lebih memilih untuk menyimpan skripsi di komputer dan Google Drive. Sampai di sini, saya sejalan dengan misi dari paperless society.

Pemanfaatan Limbah Kertas sebagai Bahan Bakar Alternatif
Kertas tidak melulu soal limbah yang mengotori lingkungan. Saat ini, kertas digunakan sebagai pengganti plastik untuk mengampanyekan hidup hijau, seperti tas belanja kertas, sedotan kertas, dan cangkir kertas. Kertas juga dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Kurang lebih delapan tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah dalam rangka pelaksanaan Lustrum Jurusan Fisika dan Biologi FMIPA Universitas Tadulako Palu.
Guru saya meminta saya dan tim untuk memikirkan suatu ide unik. Setelah berdiskusi dengan ibu saya, saya mendapatkan ide untuk memanfaatkan limbah kertas sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan (bioetanol).
Bioetanol adalah etanol yang diperoleh dari hasil olahan fermentasi bahan-bahan yang mengandung komponen pati, gula, atau serat selulosa[2]. Bioetanol dapat digunakan sebagai substitusi bensin dalam bentuk campuran dengan bensin (EXX), misalnya 10% etanol dicampur dengan 90% bensin (E10).
Penambahan etanol dalam bensin (gasohol) banyak digunakan karena dapat meningkatkan efisiensi pembakaran dan menghasilkan gas buang yang lebih bersih. Gasohol dapat digunakan pada semua tipe kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin. Adapun etanol 100% (E100) juga dapat digunakan sebagai bahan bakar, tetapi penggunaan E100 membutuhkan modifikasi pada mesin[3].
Berangkat dari konsep ini, saya dan tim mengerjakan proyek dengan berbekal kertas-kertas tugas mahasiswa. Berikut adalah tahapan pengolahan limbah kertas menjadi bioetanol[4]:
Pertama. Limbah kertas sebanyak 50 gram ditambahkan dengan larutan natrium hidroksida 10% sebanyak 800 ml. Limbah kertas diblender sampai menjadi bubur lalu disaring menggunakan kain saring. Selanjutnya, endapan yang diperoleh dicuci dengan air sampai pH 7. Endapan kemudian dimasukkan ke dalam talang dan dikeringkan di oven selama 8 jam pada suhu 100C.
Kedua. Sampel kertas kering sebanyak 60 gram dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Sampel kertas kering lalu ditambahkan dengan larutan asam klorida 25% sebanyak 200 ml. Proses hidrolisis dilakukan pada suhu 1000 C selama 180 menit. Sampel hasil hidrolisis kemudian disaring dan dinetralkan dengan larutan natrium hidroksida.
Ketiga. Sampel hasil hidrolisis selulosa limbah kertas dimasukkan ke dalam fermentor dan ditambahkan ragi roti sebanyak 25 gram. 
Selanjutnya, sampel diinkubasi pada suhu ruang selama 48 jam dengan pengulangan sebanyak dua kali. Produk fermentasi kemudian disaring menggunakan kain saring dan didestilasi menggunakan rotary vacum evaporator.

                                                   Proses fermentasi bioetanol (dokumen pribadi)

Dari tahapan di atas, diperoleh kadar etanol sebesar 31% untuk sampel pertama dan 32% untuk sampel kedua. Hasil penelitian ini mendapat beberapa saran. Pertama, bioetanol yang diperoleh perlu diuji coba pada kendaraan, karena kadar etanol yang memenuhi standar (± 30%) dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Kedua, kertas yang bertinta juga perlu digunakan agar lebih efektif dalam pengolahan limbah kertas, mengingat saya dan tim hanya menggunakan bagian kertas yang putih.

Pengembangan Lebih Lanjut
Alhamdulillah, saya dan tim mendapat juara III. Namun, kami tidak menindaklanjuti saran-saran yang diberikan, karena kami hanya berfokus untuk mengikuti lomba dan tidak ada rencana jangka panjang setelahnya. Selain itu, kesibukan menjelang ujian nasional juga menjadi hambatan untuk mengerjakan proyek yang berkelanjutan.
Sebelum menulis esai ini, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu apakah sudah ada penelitian yang menjawab saran-saran di atas. Saya pun mendapatkan artikel ilmiah yang membahas mengenai penggunaan kertas koran bekas sebagai bahan pembuatan bioetanol. Metode penelitiannya meliputi proses pre-treatment, hidrolisis enzimatis, fermentasi, dan distilasi. Kadar bioetanol yang diperoleh cukup tinggi, yaitu sebesar 55,3%[5].
Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, saya merekomendasikan kepada Asia Pulp and Paper (APP) Sinarmas selaku salah satu perusahaan produsen kertas untuk mengembangkan lebih lanjut mengenai pengolahan limbah kertas menjadi bioetanol. Rekomendasi ini juga sejalan dengan rencana Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan bahan bakar alternatif berbahan utama etanol[6].
Saya meyakini limbah kertas yang dihasilkan oleh pabrik APP Sinarmas dan limbah-limbah kertas di tempat lainnya membuat biaya investasi untuk pengembangan bahan bakar bioetanol menjadi lebih murah.
Dengan demikian, APP Sinarmas dan juga masyarakat yang membaca esai ini diharapkan dapat berpartisipasi untuk menghijaukan bumi dengan kertas – salah satunya dengan mengolah limbah kertas menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Referensi:
[1] R. Juliani, UIN Alaudin Akui Buang Ribuan Skripsi
[2] E. Hambali, S. Mujdalipah, A.H. Tambunan, A.W. Pratiwi, dan R. Hendrok, Teknologi Bioenergi. Jakarta: PT. Agro Media Pustaka, 2007.
[3] S. Duryatmo, Bensin Singkong dari Halaman. Majalah Trubus no. 458 Edisi Januari 2008.
[4] D.Y. Alam, N. Mahfudz, dan Muammar, Pemanfaatan Limbah Kertas sebagai Bahan Bakar Alternatif. Palu: SMA Negeri Model Terpadu Madani, 2011.
[5] C.N. Putri dan B. Utami, Pembuatan Bioetanol dengan Cara Hidrolisis Menggunakan Kertas Koran Bekas serta Pemurnian Menggunakan Agen Pengering (MgSO4, Na2SO4, dan CaCl2). Journal Cis-Trans (JC-T), 1, 10-15 (2017).
[6] R. Pratama, Selain Mobil Listrik, Indonesia Siapkan Kendaraan Bioetanol.

»»  read more

Minggu, 07 April 2019

Ketika Logika dan Perasaan Teralgoritmekan

Saat ini, perkembangan teknologi kian pesat. Manusia berlomba-lomba menciptakan sesuatu yang dapat membantu produktivitasnya. Salah satu di antaranya adalah Artificial Intelligence (AI), tapi apakah AI benar-benar dapat membantu manusia?

Sejarah AI
Istilah AI pertama kali diperkenalkan oleh John McCarthy pada tahun 1956. Namun, eksplorasi mengenai AI telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Vannevar Bush, seorang ilmuwan Amerika Serikat, mengusulkan adanya suatu sistem yang mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman manusia di dalam esai yang berjudul As We May Think.
Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1950, Alan Turing menulis makalah yang berjudul Computing Machinery and Intelligence. Makalah ini membahas pertanyaan sederhana, “Apakah mesin dapat berpikir?”. Boleh jadi pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mendefinisikan istilah “mesin” dan “berpikir”, tapi menurut Turing tidak sesederhana itu.
Turing pun lalu mendeskripsikan permasalahan yang ada ke dalam bentuk permainan yang disebut “Permainan Tiruan”. Permainan ini dimainkan oleh tiga orang – pria, wanita, dan penanya. Penanya berada di ruangan yang terpisah. Tujuannya adalah agar penanya dapat mengidentifikasi yang mana pria dan yang mana wanita.
Permainan yang diusulkan Turing inilah yang kemudian dikenal sebagai uji Turing. Uji Turing menjadi tujuan utama jangka panjang penelitian AI. Akankah manusia mampu menciptakan komputer yang meniru manusia, di mana penanya tidak bisa membedakan antara manusia dan mesin? Awalnya terlihat sulit, tapi mungkin saja akan terjadi.

Samantha, Eliza, dan Sophia
Ketiga “wanita” ini bukan sembarang wanita. Pekerjaan mereka masing-masing adalah asisten pribadi, psikoterapis, dan agen pemasaran. Mereka juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan AI. Saya akan menjelaskannya satu per satu secara detail.
·      Samantha
Her adalah film drama romantis sains fiksi tentang seorang penulis bernama Theodore yang memiliki hubungan spesial dengan Samantha, sebuah operating system (OS) komputer. Samantha didesain berdasarkan jutaan kepribadian programmer yang membuatnya dapat berkembang sesuai dengan pengalaman seperti halnya manusia.
Di satu sisi, film ini menceritakan bagaimana Theodore yang introvert dan melankolis berusaha move on dari mantan istrinya dengan berbagai cara, mulai dari cara biasa (berkenalan dengan wanita lain) hingga cara tak biasa (membeli OS). Di sisi lainnya, film ini menyoroti kecanggihan Samantha yang dapat membantu Theodore menyelesaikan urusannya.
Her memiliki alur cerita yang anti mainstream. Setelah menontonnya, saya kemudian bertanya-tanya, apakah ada suatu masa di mana kita lebih nyaman berinteraksi dengan komputer dibandingkan manusia? Boleh jadi ada, karena sebagian manusia kurang memiliki rasa empati terhadap sesamanya, sehingga komputer menjadi alternatif untuk teman bicara.
Hal inilah yang membuat Theodore jatuh cinta pada Samantha. Samantha memiliki kemampuan untuk memahami segala permasalahan Theodore hingga memberikan solusi. Saya pun tidak dapat mengatakan Theodore aneh karena jatuh cinta pada sebuah OS yang tidak memiliki raga. Dia hanya jatuh cinta pada logika dan perasaan yang ada di dalamnya.
·      Eliza
Samantha mengingatkan saya pada Eliza, suatu program komputer yang dapat diajak berbincang melalui tulisan. Eliza dibuat oleh Joseph Weizenbaum, seorang pakar informatika di Massachusetts Institute of Technology (MIT), pada tahun 1966. Program ini menyerupai psikoterapis Rogerian. Saya pun tertarik untuk mencoba berinteraksi dengannya.
Eliza  : How do you do.  Please tell me your problem.
Saya  : I am bored.
Eliza  : Is it because you are bored that you came to me?
Saya : Yes, why not?
Eliza : You are sure.
Saya : So, do you still want to talk with me if I am bored?
Eliza : How long have you been bored?
Saya : Just few minutes ago.
Percakapan di atas adalah kutipan percakapan saya dengan Eliza di situs Masswerk. Eliza memiliki kemampuan yang cukup baik dalam merespons jawaban yang saya berikan, Walaupun setelah melakukan beberapa kali percakapan jawaban Eliza kurang sesuai, tidaklah terlalu berlebihan jika Eliza dijuluki sebagai computer therapist.
·      Sophia
Berbeda halnya dengan Samantha dan Eliza, Sophia adalah sebuah robot yang benar-benar cerdas. Bagaimana tidak, Sophia bahkan mampu mengelak pertanyaan yang ditujukan padanya. Saya mengutip beberapa percakapan Sophia dengan pihak Business Insider.
Penanya   : Do you like human beings?
Sophia     : I love them.
Penanya   : Why?
Sophia     : I am not sure I understand why yet.
Penanya   : Is it true you once said you would kill all humans?
Sophia     : The point is that I am full of human wisdom with only the purest altruistic intentions. So, I think it is best that you treat me as such.
Jawaban Sophia begitu impresif. Ia menyiratkan adanya indikasi “paham anti-manusia”. Sophia pun dianugerahi kewarganegaraan oleh pemerintah Arab Saudi atas kecerdasannya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat Arab Saudi – mengapa pemerintah mereka dengan mudahnya memberikan hak pada sebuah robot ketimbang wanita?
Entahlah, yang jelas Sophia merupakan suatu penemuan yang canggih, sehingga wajar jika pemerintah Arab Saudi memberikan apresiasi yang begitu besar. Selain itu, hak kewarganegaraan juga menunjang karir Sophia di bidang marketing yang pastinya menguntungkan bagi perekonomian Arab Saudi.

Apakah AI Dapat Menggantikan Manusia?
Berdasarkan kisah ketiga “wanita” di atas, pertanyaan ini kemudian muncul. Antonio Damasio, seorang neurosaintis yang mempelajari emosi dan perasaan manusia, mengatakan bahwa hal yang tidak mungkin bagi AI untuk membuat otak manusia. AI harus memiliki indera, tubuh, dan kognisi, tidak hanya menerima algoritma-algoritma dari neuron.
Yuval Noah Harari, dalam bukunya 21 Lessons for 21st Century, memberikan pandangan berbeda. Beliau menyebutkan bahwa AI boleh jadi menggantikan peranan manusia di dalam kehidupan sehari-hari, karena AI mampu melakukan hal yang tidak dapat dilakukan manusia. Beliau juga menambahkan bahwa AI adalah salah satu produk utama “kebodohan” manusia.
Seirama dengan Yuval, Raymond Kurzweil, seorang futuris, memprediksi bahwa komputer akan lolos uji Turing pada tahun 2029. Komputer nantinya mampu menunjukkan inteligensi, self awareness, bahkan perasaan yang tidak dapat dibedakan dengan manusia. Perubahan yang sangat cepat ini dapat diatasi manusia apabila bekerja sama dengan komputer.
Dengan demikian, saya menyimpulkan bahwa kemungkinan AI dapat menggantikan manusia adalah 50:50. Walaupun logika dan perasaan dapat dialgoritmakan komputer, manusia tetap makhluk paling sempurna di muka bumi ini. Kita memegang kontrol atas AI yang diibaratkan seperti pisauberguna jika memang dibutuhkan dan merugikan jika berada di luar batas.


Referensi:
C. Smith, B. McGuire, T. Huang, dan G. Yang, The History of Artificial Intelligence. Washington: University of Washington, 2006.
J. Edwards, I interviewed Sophia, the artificially intelligent robot that said it wanted to ‘destroy humans’. https://www.businessinsider.sg/interview-with-sophia-ai-robot-hanson-said-it-would-destroy-humans-2017-11/?r=US&IR=T.
E. Reynolds, The agony of Sophia, the world’s first robot citizen condemned to a lifeless career in marketing. https://www.wired.co.uk/article/sophia-robot-citizen-womens-rights-detriot-become-human-hanson-robotics.
Bitbrain, Will artificial intelligence ever have emotions or feeling? https://www.bitbrain.com/blog/artificial-intelligence-emotions.
Y.N. Harari, 21 Lessons for 21st Century. UK: Jonathan Cape, 2018.


»»  read more